Selayang Pandang
Menjadi Duta Bangsa di Negeri Tetangga
Written by Angga Johanta, Peserta Pertukaran Pemuda Indonesia-Malaysia   

 

Program ini adalah kerjasama antara dua negara serumpun Indonesia dan Malaysia. Merupakan kegiatan rutin tahunan yang diselenggarakan oleh kedua negara tersebut sejak tahun 1974. Dan sebagai salah satu delegasi Indonesia yang dipercaya oleh pemerintah sebagai wakil pemuda Indonesia merupakan suatu kebanggaan sekaligus tugas yang berat untuk selalu membawa nama baik bangsa ini di negara lain. Apalagi awal keberangkatan kami ke Malaysia sempat sedikit terganggu dengan adanya isu wabah flu babi di Asean serta menghangatnya kembali hubungan bilateral Indonesia-Malaysia perihal “pengklaiman” beberapa kebudayaan Indonesia.

Namun semua tugas dan tanggung jawab berat itu terbalas sudah dengan berpuluh kebahagiaan dan pengalaman berharga yang saya dapat selama menjadi duta bangsa di Malaysia. Tidak hanya sekedar jalan-jalan ke luar negeri akan tetapi menjadi seorang duta bangsa benar-benar memberikan saya pengalaman yang tak terlupakan. Meskipun program berjalan cukup singkat selama sekitar dua minggu, namun kegiatan seabrek sudah menanti kita ketika tiba disana.

Kunjungan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Malaysia dan juga pusat pemerintahan Malaysia di Kompleks Putrajaya menjadi agenda awal kami di program. Setelah beberapa hari tinggal di Kuala Lumpur, rombongan delegasi Indonesia menuju ke Port Dickson, Negeri Sembilan, sebuah tempat yang cantik dengan panorama pantainya. Kegiatan disana dipusatkan untuk latihan kepemimpinan dan kerjasama tim. Tidak hanya itu di daerah tersebut kita juga melakukan aktivitas di hutan dan pantai di sekitar tempat training kami. Tiga hari menginap di pusat pelatihan kepemimpinan di port Dickson perjalanan sebagai duta bangsa kami lanjutkan ke negeri Pahang. Di provinsi tempat penyanyi terkenal asal Malaysia Siti Nurhalizah ini kami tinggal di sebuah desa terpencil bernama Kampung Relong. Di desa ini kami tinggal bersama kelurga angkat kami masing-masing. Berbagai aktivitas kepemudaan kami lakukan bersama para pemuda di desa setempat; seperti gotong

royong, kendurian, kunjungan ke pusat kerajinan lokal, serta wisata bersama di lokasi setempat hingga puncaknya kami melakukan malam culutural performance bersama seniman setempat. Dan menjelang keberangkatan kami menuju tujuan berikutnya, kita bertemu dengan Diva Malaysia Siti Nurhalizah yang secara kebetulan sedang mengadakan konser di kampung halamannya. “Betapa beruntungnya kami bisa bertemu penyanyi yang terkenal sangat ramah dan santun terhadap penggemarnya ini.“

Setelah beberapa hari tinggal bersama keluarga angkat Kampung Relong perjalanan dilanjutkan ke daerah Selangor,tepatnya keunjungan ke sebuah sekolah kejuruan terkenal di IKBN Dusun Tua. Di sana kita mengadakan berbagai aktivitas dengan pelajar setempat serta mengadakan perlombaan

beberapa cabang olahraga, dan ternyata saya menjadi juara di cabang bulutangkis,”sesuai dengan olahraga favorit saya”. Hehe..

Pada akhir program di Malaysia, kita kembali ke Kuala Lumpur untuk melakukan kunjungan ke beberapa tempat, sepertidi Kementrian Belia dan Sukan Malaysia serta mengadakan malam Festifal Budaya Antar Negara di Pusat Taman Kebudayaan Malaysia. Disana kita tampil berkolaborasi dengan seniman profesional Malaysia untuk menampilkan kebudayaan antar dua negara. Dan hari berikutnya yang merupakan hari terakhir kita di Malaysia, panitia setempat memberikan kita kesempatan untuk melakukan “free activities” dan hal ini dimanfaatkan rombongan untuk berjalan-jalan di KLCC yang terkenal dengan Menara Petronas dan pusat perbelanjaanya. Selain itu kita juga berkesempatan berbelanja di Central Market dan Little India yang terkenal dengan souvenir-souvenir khas negara tersebut.

Rangkuman cerita di atas hanyalah segelintir cerita yang ada dari keseluruhan program, namun satu hal yang pasti kita dapatkan adalah kebanggaan yang luar biasa telah menjadi duta bangsa dan juga hal ini merupakan langkah awal kita sebagai pemuda untuk berpikir dan bersosialisasi secara global.*


 

 
A Life Changing Experience
Written by Ryza Cahaya, Peserta Program Pertukaran Pemuda Indonesia Kanada 2008-2009   

 

I’ve changed…
I’ve changed after I met 18 Indonesian and Canadian participants from all over province..

They taught me about teamwork, they showed me how rich our global culture is, they
taught me how to support each other, they offer me a family.

Later I was under Canadian sky, my hand touching snow..then I learned about Canadian waste management, council policy for disable people, and absorbing all the advantages that first world country could offer.
Staying in sub-urban area with my host family, working as a volunteer in Colchester Adult Learning Association, Skating and playing paintball on the weekend with my group, was a fascinating moment..We ended it by throwing an Indonesian Night Cultural Performance and performed for CUSO-Dance for the World to raise money..

When we moved to small village in a remote area, far in Riau, I learned more..
About community support, Villagers effort to survive, and embracing their kindness…
There we try to pass on our knowledge and skills, everything that we have which we believe could improve their life condition, but most important we gave them our love that will last..

Despite the wooden house that we lived in, rain water that we drank, walking in the forest everyday and got bitten by snake, I enjoyed each second that past doing community development program and involving on interaction between Canadian and Indonesian cultures..

In only 7 months, I learned that hard work and good intention will lead to something bigger than us..now I know that diversities is a bless..now I know my self better, as a proud Indonesian, as a global citizen who cooperate to fight for an ideal world..
My life has changed by this experience..so why don’t you join us and make your own story? *


 

 
Dari Luar Kotak
Written by Muhammad Rodlin Billah, Peserta Pertukaran Pemuda Indonesia Kanada 2008/2009   

 

Saya pernah mendengar seorang kawan saya berkata bahwa untuk mendapatkan sebuah pandangan yang menyeluruh, terkadang kita harus keluar dari kotak yang ingin kita lihat. Jika saya ditanya apakah saya setuju dengan hal itu sebelum saya mengikuti program Pertukaran Pemuda Indonesia-Kanada (PPIK) tahun lalu, maka saya cenderung menjawab, “Untuk apa? Toh kita sudah bisa memahami apa saja yang ada dalam kotak itu...”. Ternyata program PPIK yang saya ikuti bulan September 2008 hingga Maret 2009 lalu benar-benar mengubah paradigma saya, khususnya bagaimana memandang suatu hal. Kekayaan budaya bangsa kita adalah salah satunya.


Jika kotak yang saya maksud diatas adalah Indonesia, maka berada diluar kotak dapat diartikan dengan berada diluar Indonesia. Sudah barang tentu kita tahu jika bangsa kita sangat kaya akan budaya. Buka saja Wikipedia dan ketikkan “Indonesia”. Sejenak kemudian kita akan melihat banyak kekayaan milik kita (jangan terkejut, karena sejak SD kita sudah mendapatkan pelajaran mengenai Indonesia), mulai dari jumlah pulau, suku, dialek (bahasa daerah), tarian, lagu, kerajinan tangan, makanan, sebut saja semuanya. Wikipedia mengatakan jika terdapat sekitar 300 suku di Indonesia, namun dalam situs yang sama baru tersedia 75 artikel mengenai suku-suku tersebut. Masih dari Wikipedia, jangan terkejut juga jika ternyata native speaker bahasa Indonesia lebih banyak dari bahasa Belanda, atau native speaker bahasa Jawa ternyata lebih banyak dari native speaker bahasa Prancis, bahkan menempati posisi 11 teratas bahasa yang paling banyak digunakan di dunia. Boleh saja kita berbangga diri dan hal ini sangat wajar mengingat kita adalah pemilik dari kekayaan itu. Jika kita kembali dengan pandangan “diluar kotak”, tentu saja akan lebih adil saat kita berbangga jika ada penilaian dari yang tidak ikut memiliki kekayaan itu.


Salah seorang kawan dari host-family yang saya tinggali bertanya pada saya tentang asal saya. Saat saya menjawab “Indonesia”, dengan spontan dia menjawab “Oh, yang terkena tsunami itu ya?”. Seorang peserta dalam kelompok saya pernah mendapat respon “Sebelah mananya Bali?” dengan pertanyaan yang sama. Keduanya masih lebih baik, karena mereka mengenal kata “Indonesia” dan “Bali”. Namun tidak jarang juga yang merespon “Wah, saya baru mendengar nama itu” meskipun hanya dengan melihat raut wajah mereka yang “pura-pura mengerti”. Inilah salah satu penilaian tentang Indonesia.

Penilaian yang lain tentang Indonesia cukup membanggakan. Saat saya bercerita didepan murid-murid SD disana, saya menyampaikan seperti yang Wikipedia katakan: terdapat sekitar 300 suku, 400 dialek bahasa daerah, ribuan tarian dan lagu daerah. Tak lama kemudian, ketiga guru dalam ruangan itu, secara tidak sadar, membuka mulut sambil membelalakkan mata mereka seakan-akan berkata “Yang benar saja?!”. Bandingkan dengan penjelasan yang saya kutip dari dokumen Kedutaan Besar Kanada di Indonesia, “Kanada mempunyai dua bahasa resmi : Bahasa Inggris, bahasa ibu dari 59% penduduk Kanada, dan bahasa Perancis, bahasa pertama dari 23% penduduk. Sebesar 18% mempunyai lebih dari satu bahasa ibu atau bahasa ibu selain bahasa Inggris atau Perancis, seperti bahasa Cina, Italia, Jerman, Polandia, Spanyol, Portugal, Punjab, Ukraina, Arab, Belanda, Tagalog, Yunani, Vietnam, Cree, Inuktitut, atau bahasa lain”.

Sangat banyak penilaian positif lain yang bisa saya ceritakan, mungkin di lain kesempatan. Penutup artikel ini saya fokuskan pada satu pertanyaan reflektif untuk diri saya sendiri, “Apa yang sudah saya lakukan dengan kekayaan-kekayaan itu?”.


 

 

 
I call Australia my second home
Written by Hilyatus Zakiyyah, Peserta Program Pertukaran Pemuda Indonesia-Australia 2008/2009   

 

Tanggal 12 Oktober 2008 merupakan hari bersejarah bagi saya. Hari itu pertama kali saya pergi keluar negeri. Tidak hanya itu, yang membuat istimewa adalah embel-embel nama kontingen Indonesia yang saya emban. Hal ini menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab. Program yang dibiayai penuh oleh pemerintah kedua negara ini memberi ruang bagi pemuda Indonesia untuk berinteraksi secara langsung dengan masyarakat Australia dan juga sebaliknya (people to people contact).

Kegiatan utama selama fase Australia menyangkut tiga hal, yaitu:
Pertama, interaksi dengan keluarga Australia agar saya mengenal secara dekat cara hidup keseharian mereka. Selama 2 bulan pertama, total saya tinggal dengan 3 keluarga angkat asli Australia. Tentunya ada beberapa culture shock yang saya alami. Beberapa contoh misalnya saya sempat kaget ketika air untuk minum sama dengan air untuk cuci piring, karena air keran bisa diminum langsung. Hehe.. Kemudian di Sydney, orang gemar berjalan dan menggunakan transportasi umum. Saya yang di Indonesia terbiasa membawa motor kemana-mana kewalahan ketika harus jalan 20 menit menuju stasiun kereta listrik atau halte bus setiap pagi untuk berangkat kerja magang.

Adapun kekhawatiran saya sebelum berangkat bahwa akan tidak diterima oleh masyarakat Australia terkait isu terorisme tidak terbukti. Keluarga yang saya tempati semuanya ramah dan terbuka. Saya dianggap bagian keluarga sendiri dan bahkan mereka sempat menangisi kepergian kami ketika fase Australia berakhir. Kami banyak bertukar pandangan mengenai budaya dan cara hidup masing-masing, yang membuat saya berpikir ulang mengenai banyak hal. Saya menjadi lebih terbuka terhadap ide-ide dan inspirasi baru. Ternyata dunia jauh lebih luas daripada yang saya tahu selama ini.


Kedua, kesempatan untuk kerja magang di perusahaan Australia sesuai minat dan latar belakang studi. Saya yang sekarang sedang belajar Manajemen Pemasaran di Universitas Airlangga berhasil ditempatkan di perusahaan ekspor-impor di Sydney. Bagaimana warga Australia membuat perencanaan, melakukan riset pasar dan competitor, mencari supplier, dan ilmu-ilmu praktis lain yang tidak saya dapatkan di bangku kuliah bisa saya pelajari disini. Apalagi ketika itu, pemilik perusahaan memasukkan saya dalam proyek untuk mengimpor barang kerajinan Indonesia ke Australia. Benar-benar pengalaman yang berharga membayangkan produk kerajinan Indonesia akan menempati rak-rak supermarket di Australia beberapa waktu setelah itu, dan saya ikut andil di dalamnya.

Kemudian kegiatan utama yang ketiga adalah pertunjukan kesenian tiap minggu di sekolah, universitas dan ruang publik. Dalam kesempatan ini, saya dan kontingen bisa memperkenalkan seni dan budaya Indonesia pada masyarakat Australia dengan cakupan lebih luas. Kami serasa menjadi artis dadakan di negeri orang. Hehe.. Tidak jarang penampilan kami diliput media cetak, radio, dan bahkan TV nasional. Meskipun kami bukan penari atau penyanyi profesinal, pada tiap penampilan kami berusaha menyentuh hati masyarakat Australia bahwa kami adalah bangsa ramah yang memiliki keragaman budaya. Saat-saat seperti itu membuat saya sangat bangga menjadi bangsa Indonesia karena bisa menampilkan kekayaan budaya pada masyarakat asing. Apalagi ketika kontingen memilih saya sebagai Cultural Performance Coordinator, otomatis saya harus usaha ekstra untuk mengorganisasikan kesenian dari berbagai daerah. Usaha keras tersebut terbayar ketika dalam tiap penampilan, sambutan dan apresiasi yang diberikan begitu luar biasa. Namun, hal yang paling menginspirasi saya, Melanie Morrison, ibu angkat saya bahkan berkata “Forget about marketing Lia, be a dancer!”. Padahal saya sama sekali bukan penari. Penasaran, saya pun membuat klub tari Saman sepulang program di Surabaya, dan sampai sekarang saya menikmatinya. :)

Fase di Indonesia yang Tak Kalah Seru.

Meski 2 bulan di Australia terasa kurang, namun 18 pemuda Australia sudah menunggu kami untuk petualangan berikutnya di fase Indonesia. Kami akan menjalani berbagai kegiatan bersama diantaranya community empowerment di daerah pedesaan di Lumajang, Jawa Timur, kerja magang di Surabaya, dan tidak lupa pertunjukan kesenian gabungan antara Indonesia dan Australia.

Titik berat fase Indonesia ini adalah counterparting. Tiap peserta Indonesia akan dipasangkan dengan peserta Australia dan akan tinggal bersama keluarga angkat. Counterparting dimaksudkan agar 2 pemuda beda negara dan budaya ini dapat memahami satu sama lain secara lebih dekat. Counterpart saya, Erin Prince dari Melbourne, adalah master di bidang biologi laut. Ketertarikannya akan segala hal berbau laut dan juga kegemarannya traveling membuat saya terinspirasi. Cerita-cerita petualangannya selalu menarik. Saya dan Erin merasa cocok karena kami berdua suka kegiatan outdoor dan juga partner yang kompak dalam tiap petualangan.

Kontingen kami yang sekarang total berjumlah 36 pemuda dari Indonesia dan Australia, bersama-sama merasakan pengalaman hidup di desa dan juga melakukan pemberdayaan komunitas. Kami melakukan pembangunan fisik dan non fisik, seperti membangun perpustakaan, pelatihan internet bagi karang taruna, kampanye budaya hidup bersih, mengajar bahasa Inggris di sekolah dasar, kerja bakti, kunjungan ke berbagai perkebunan, rekreasi bersama dll.

Program yang berjalan selama 4 bulan ini benar-benar membuka mata dan membuat perubahan besar dalam hidup saya. Terima kasih pada Kementerian Pemuda dan Olahraga Indonesia atas kesempatan yang diberikan. Terima kasih pada Pemerintah Australia atas keramahan dan kesempatan mencicipi kebudayaan Australia. Terima kasih pada alumni baik yang tergabung di PCMI Jawa Timur maupun alumni AIYEP dari seluruh Indonesia. Terima kasih pada 17 teman-teman perwakilan dari propinsi-propinsi di Indonesia dan juga 18 teman-teman dari Australia atas pengalaman, petualangan dan kenangan yang telah kita ciptakan bersama dan akan terus menjadi keluarga selamanya.

My life would never be the same again.


 

Yahoo Messenger

Google Talk

Hard Rock FM Surabaya Prambors Surabaya